Lomba Ulang Tahun KORPRI 2018

Lomba Pengucapan Undang Undang Dasar 1945.

Materi Pembelajaran "Simple Present Tense"

Materi Pembelajaran mengenai Simple Present Tense

Animated Video "Simple Past Tense"

Video Animasi ini mengenai Simple Past Tense

Kamis, 23 Februari 2023

2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

 




2.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 2.1

Setelah serangkaian kegiatan pembelajaran dalam Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi ini, CGP diminta membuat keterkaitan antara materi yang dipelajari dengan materi pada modul lainnya. 

Pertanyaan pemantik untuk pembelajaran ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah saya mengubah pemikiran saya sebagai akibat dari apa telah saya pelajari?

Pada dasarnya pembelajaran yang saya dapatkan dalam mengimplementasikan pembelajaran diferensiasi sangat banyak sekali, yang mana hal tersebut mengubah pemikiran saya yang selama ini mungkin keliru. Hal itu dapat terjadi karena konsep awal tentang pembelajaran diferensiasi yang saya lakukan bertolak belakang dengan apa yang saya pelajari selama ini. Dengan demikian saya akan mulai melakukan perubahan pembelajaran dengan melakukan pembelajaran diferensiasi yang berpusat kepada murid dan berdasarkan atas kebutuhan, minat dan gaya belajar yang tentu saja harus berdasarkan atas tujuan yang sama. Jadi setelah saya mengetahui dan mempelajari mengenai pembelajaran berdiferensiasi tentu saya akan mengubah pemikiran saya dan juga akan merubah cara pembelajaran menjadi pembelajaran yang berdiferensiasi.

2. Bagaimana perubahan pemikiran tersebut berkontribusi terhadap pemahaman saya tentang implementasi pembelajaran berdiferensiasi?

Perubahan pemikiran pada saya sangat berkontribusi sekali terhadap implementasi pembelajaran diferensiasi yang akan saya lakukan karena dengan melakukan pemahaman yang saya pelajari pada program CGP angkatan 7 ini, banyak sekali informasi ataupun gambaran mengenai pembelajaran berdiferensiasi yang merupakan pembelajaran yang berdasarkan atas kebutuhan murid. Selama ini yang saya lakukan yaitu pembelajaran melalui berbagai macam metode pembelajaran serta melakukan banyak variasi, juga melalui permainan dan sebagainya tetapi berbagai macam kegiatan pembelajaran yang saya lakukan tersebut  belum mencerminkan pembelajaran berdiferensiasi, karena pembelajaran tersebut tidak bisa menyesuaikan dengan kebutuhan anak, minat serta gaya belajar mereka yang berbeda,  yang tentunya tujuan utamanya adalah mencapai tujuan pembelajaran. Maka dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang saya pelajari saat ini diharapkan dapat memfasilitasi murid untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama.

3. Bagaimana saya tetap dapat bersikap positif walaupun banyak tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini?

Karena pembelajaran berdiferensiasi itu berbeda dengan pemikiran yang dulu saya lakukan yaitu pembelajaran dengan berbagai macam kegiatan yang intinya itu saya menggunakan tema yang sama akan tetapi pada tujuannya saya menggunakan pembelajaran yang berbeda, nah dengan pemahaman pembelajaran diferensiasi yang saat ini saya pahami. Maka saya akan berusaha merubah pembelajaran yang saya lakukan yaitu dengan menggunakan pemahaman pembelajaran diferensiasi yang berfokus kepada kebutuhan murid dan juga pembelajaran yang akan mampu mencukupi kebutuhan murid yang mereka harapkan.

Kendala yang ditemukan saat perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi beragam, misalnya; Pertama, guru harus mengetahui berbagai karakteristik peserta didik. Pengetahuan guru tentang kondisi keberagaman siswa menjadi dasar untuk merancang pembelajaran, sehingga sesuai dengan keadaan keberagaman peserta didik tersebut. Guru perlu meluangkan waktu yang cukup dalam menyusun rancangan pembelajaran. Kedua, guru perlu menyusun asesmen diagnostik dan formatif pada awal pembelajaran. Asesmen diagnostik dilaksanakan untuk mengetahui keberagaman peserta didik. Adapun asesmen formatif pada awal pembelajaran untuk mengetahui tingkat pencapaian peserta didik. Dengan demikian, guru dapat merancang pembelajaran kompetensi tiap peserta didik. Ketiga, guru perlu menggunakan multimetode, multimedia, dan multisumber. Panerapan metode, media dan sumber belajar yang bervariasi dapat mangakomodasi berbagai tipe belajar peserta didik baik tipe visual, auditon maupun kinestetik. Tetapi berbagai hal diatas dapat dijadikan sebagai tantangan, dengan begitu saya dapat terus mencari solusi dari tantangan tersebut. Meskipun terdapat beberapa tantangan tetapi saya tetap bersikap positif dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi karena memang dengan pembelajaran yang berdiferensiasi kebutuhan belajar murid terakomodasi sehingga hasil belajar lebih menyenangkan, termotivasi dan optimal.

Lakukanlah refleksi secara individu terhadap perjalanan pembelajaran Anda hingga saat ini dengan merespon beberapa pertanyaan dan tugas berikut ini:

Buatlah kesimpulan tentang apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi dan bagaimana hal ini dapat dilakukan di kelas.

Salah satu filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah kodrat alam dan kodrat zaman. Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal ini tidak dapat dipisahkan dalam diri anak. Seorang anak telah memiliki kodrat alam potensi, bakat, kemampuan) yang unik, berbeda-beda satu sama lain sehingga guru diharapkan mampu memfasilitasi mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai jenjang usia mereka. Pembelajaran akan menjadi menyenangkan jika dilakukan sesuai kodrat anak, yaitu bermain. Sementara kodrat zaman, bagaimana kodrat seorang guru mampu membimbing anak agar siap hidup mandiri dalam zaman yang terus berubah.

Oleh karena siswa memiliki karakteristik yang beragam, diperlukan pembelajaran yang dapat mengakomodasi berbagai kebutuhan belajar siswa. Kebutuhan belajar siswa terdiri dari kesiapan belajar, minat, dan profil belajar. 

Untuk dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, hal yang harus dilakukan oleh guru antara lain:

1. Melakukan pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar murid (bisa dilakukan melalui wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)

2. Merencanakan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)

3. Mengevaluasi dan Melakukan Refleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.

Yang akan saya lakukan yaitu; pertama saya akan mengadakan wawancara dengan cara tanya jawab serta memberikan quisioner untuk murid SMP disekolah saya. Kemudian mengadakan pengamatan apa yang diperlukan murid, kebutuhan apa yang mereka inginkan. Setelah saya melakukan tanya jawab dan juga observasi terhadap murid, maka saya akan mengetahui akan kebutuhan mereka. setelah itu saya mengelompokkan anak pada kelompok yang sesuai dengan kebutuhan murid. Misalkan:

kelompok pertama beranggotakan murid yang mempunyai kebutuhan yang dirasa perlu bantuan ataupun perlu motivasi dari guru. Kemudian untuk kelompok kedua saya berikan kepada anak yang memang anak sudah mampu terhadap pembelajaran yang saya berikan hanya saja mereka masih perlu sedikit motivasi agar anak mampu melakukannya. Sedangkan untuk kelompok ketiga beranggotakan murid yang memang benar-benar sudah menguasai materi yang saya berikan dan saya akan memberikan tantangan yang lebih dari zona nyaman yang selama ini mereka hadapi. Dengan maksud anak akan memiliki kemampuan yang sesuai dengan kebutuhan yang mereka inginkan.

Di sisi lain, murid saya juga yang memiliki gaya belajar yang berbeda. Ada murid yang lebih dominan gaya belajarnya berbasis visual, sehingga anak tersebut akan lebih maksimal dalam proses belajarnya ketika disuguhi dengan materi-materi yang beraroma visual. Ada juga murid yang dominan dengan gaya belajar kinestetik, di mana murid tersebut akan lebih suka belajar ketika melibatkan gerakan. Melihat hal tersebut, maka saya harus memiliki berbagai metode pembelajaran yang akan diterapkan di dalam pembelajaran. 

Sebagai guru saya tentunya tidak perlu terlalu kaku ketika membentuk kelompok murid dalam pembelajaran berdiferensiasi ini. Jika terdapat murid yang ingin pindah kelompok karena ia merasa lebih cocok dengan kelompok yang lainnya, saya perlu memberikan izin. 

Misalnya terdapat murid yang masuk di dalam kelompok ketiga berdasarkan penilaian yang telah dilakukan oleh guru, tapi jika murid tersebut ingin bergabung dengan kelompok lain karena suatu ketertarikan tertentu (karena tertarik pada buku tertentu, misalnya) maka saya pun tidak perlu melarangnya. 

Jelaskan bagaimana pembelajaran berdiferensiasi dapat memenuhi kebutuhan belajar murid dan membantu mencapai hasil belajar yang optimal. Jelaskan pula bagaimana Anda melihat kaitan antara materi dalam modul ini dengan modul lain di Program Pendidikan Guru Penggerak.

Pada pembelajaran diferensiasi ini sebenarnya telah mencakup modul 1.1 dan juga modul 1.2 Kenapa demikian. Karena pada modul 1.1 yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan Tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak di mana pendidikan menuntun segala kodrat yang pada anak agar anak dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia maupun anggota masyarakat dari sini dapat kita tahu bahwa pembelajaran berdiferensiasi itu guru mencoba menuntun anak menjadikan anak terpenuhi akan kebutuhannya sehingga dia akan merasa bahagia dan mencapai keselamatan dan sesuai dengan kodrat yang ada pada diri anak. 

Kaitan Dengan Materi Lain dalam Modul Guru Penggerak

Modul 1.1: Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Menurut Ki hadjar Dewantara, Setiap anak adalah makhluk yang memiliki kodrat masing-masing didalam dirinya, dan pendidikan berperan penting dalam menuntun anak untuk mencapai kekuatan kodratnya. Pembelajaran berdiferensiasi yang dilakukan oleh seorang guru menjadi jawaban atas kebutuhan individu murid yang berbeda-beda berdasarkan kodrat alam dan zamannya.

Ada beberapa nilai utama dari filosofi KI Hadjar yang berkaitan dengan pembelajaran berdiferensaisi

~  Ki Hadjar menekankan peran guru dalam pendidikan sebagai penuntun anak didik dengan menggunakan Sistem among yang menuntun anak didk berkembang sesuai kodratnya dengan istilah yang Ki Hadjar gunakan yaitu “menghamba pada sang anak” yang diartikan menuntun anak didik dengan penuh kasih sayang agar anak bisa berkembang sesuai kekuatan kodratnya. Dalam pembelajaran berdiferensiasi peran guru sangat berperan penting dalam mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang beraneka ragam, dengan mencipatakan lingkungan belajar yang mendukung anak anak berkembang sesuai kekuatan kodratnya.

Trilogi pendidikan ini adalah: tut wuri handayani , ing madya mangun karsa , ing ngarsa sung tulada. Ketiga nilai ini merupakan landasan penting guru dalam menjalankan perannya agar bisa memaksimalkan strategi untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap muridnya.

Modul 1.2 : Nilai dan Peran Guru Penggerak

Nilai-nilai guru penggerak yang meliputi nilai mandiri, kolaboratif, reflektif, inovatif dan nilai yang berpihak pada murid, merupakan modal utama seorang guru yang harus dimiliki, sehingga dengan nilai-nilai tersebut seorang guru penggerak diharapkan mampu mengemban peran guru penggerak yang salah satunya adalah menjadi pemimpin pembelajaran. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus memfokuskan pada pembelajaran yang berpihak pada murid dengan secara mandiri, reflektif, kolaboratif, dan berinovasi dalam mendesain dan menerapkan ragam variasi strategi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan belajar setiap muridnya.

Modul 1.3 : Visi Guru Penggerak

Guru Penggerak memiliki Visi untuk melakukan perubahan positif pada pembelajaran yang berpihak pada murid melalui pembelajaran berdiferensiasi ini serta melalui strategi pendekatan Inquiry Apresiatif, guru akan menemukan kekuatan yang dimilikinya untuk mewujudkan VISI tentang murid impiannya

 

Modul 1.4 : Budaya Positif

Penerapan budaya positif di dalam ruang kelas terutama disiplin positif, membuat kesepakatan kelas dan menerapkan kontrol guru manager, maka akan dapat mewujudkan terbentuknya komunitas belajar yang mendukung ekosistem belajar yang berdiferensiasi. Dengan menjadikan pemetaan kebutuhan belajar murid sebagai sebuah rutinitas yang selalu dilakukan guru, sehingga bisa mewujudkan variasi strategi dalam memenuhi kebutuhan belajar murid, dan konsistensi pembelajaran berdiferensiasi bisa terus di lakukan.






Senin, 02 Januari 2023

Aksi nyata modul 1,2, dan 4

 Berikut beberapa video tentang aksi nyata yang saya lakukan di SMPN 14 Palembang selama saya mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 7





Jumat, 16 Desember 2022

Koneksi antar materi Modul 1.4 Budaya Positif CGP7 Palembang

 Tujuan Pembelajaran Khusus:

· CGP memahami keterkaitan konsep budaya positif dengan materi pada modul      1.1, 1.2 dan 1.3

· CGP dapat menyusun langkah dan strategi yang lebih efektif, konkret, dan      

  realistis untuk mewujudkan budaya positif di sekolah


Buatlah sebuah kesimpulan mengenai mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia, posisi kontrol restitusi, keyakinan kelas, restitusi, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional KHD, Nilai dan Peran Guru Penggerak, dan Visi Guru Penggerak.

Keseluruhan isi Koneksi antar materi Modul 1.4 mengenai Budaya Positif, dapat dilihat pada video berikut ini:


 Saran dan kritiknya saya tunggu ya 
Terima Kasih :)

Rabu, 14 Desember 2022

Aksi Nyata Budaya Positif Modul 1.4 CGP7


JUDUL AKSI NYATA :

“Mengimbaskan mengenai penanaman dan pembiasaan Budaya Positif dengan Kesepakatan Kelas dan Sigitiga Restitusi dalam Proses pembelajaran kepada warga SMPN 14 Palembang”

A. LATAR BELAKANG

Budaya Positif di sekolah sangatlah penting untuk mengembangkan peserta didik yang memiliki karakter kuat, sesuai profil pelajar pancasila yang dicetuskan sebagai pedoman untuk pendidikan di Indonesia. Budaya positif di sekolah ialah nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab. Dalam mewujudkan budaya positif ini, guru memegang peranan sentral. Langkah Langkah yang bisa Kita lakukan untuk membiasakan budaya positif adalah dengan,mendiskusikan keyakinan sekolah dan keyakinan kelas serta menerapkan proses segitiga restitusi. Dengan mengikuti langkan Langkah restitusi guru bisa membimbing siswa untuk mengidentifikasi kebutuhan mereka, meyadari kesalahan dan mencari sendiri solusi yang nyaman

B. Tujuan Aksi Nyata:

Melaksanakan sosialisasi mengenai budaya positif, perubahan paradigma belajar, disiplin positif, posisi kontrol restitusi, keyakinan kelas dan segitiga restitusi agar dapat :Mewujudkan visi sekolah melalui penerapan budaya positif. Terbentuknya karakter disiplin yang kuat.
Menumbuhkan dan membiasakan budaya positif dengan keyakinan Kelas, menguatkan peran sebagai guru penggerak melalui Aksi Nyata segitiga restitusi dan posisi control sebagai manajer.

C. Dukungan Yang diperlukan :

· Dari Kepala Sekolah

· Rekan guru

· Warga Sekolah

· Seluruh Murid SMPN 14 Palembang

D. TOLAK UKUR

· Untuk mengetahui sejauh mana kegiatan ini sudah dilakukan dan untuk mengontrol kegiatan agar tetap tearah pada tujuan yang sudah ditetapkan, maka tolak ukur yang digunakan adalah sebagai berikut :

· Terbentuknya keyakinan kelas sebagai pedoman dalam memecahkan permasalahan yang ada dikelas. Keyakinan kelas ini dibentuk atas kesepakatan peserta didik bersama walikelas. Peserta didik dan walikelas harus selalu konsisten dalam menjalankan keyakinan kelas. Mengaplikasikan proses segitiga restitusi dalam membantu siswa dengan posisi kontrol sebagai manajer.

E. LINIMASA YANG DILAKUKAN

· Membuat perencanaan aksi nyata lalu berkomunikasi dengan kepala sekolah mengenai hal tersebut.

· Melakukan perbaikan perencanaan jika diperlukan sebagai hasil konsultasi dengan kepala sekolah.

· Mengimbaskan mengenai materi budaya positif dan mengkomunikasikan tindakan aksi nyata kepada walikelas dan rekan sejawat.

· Melakukan kolaborasi dan sharing dengan walikelas dan rekan sejawat berkaitan strategi membangun budaya positif di kelas.

· Melakukan pengimbasan mengenai segitiga restitusi yang telah dipraktikan dengan murid

· Menerapkan Disiplin Positif di sekolah.

· Mengevaluasi dan refleksi kegiatan tindakan aksi nyata dalam rangka membudayakan kebiasaan positif di sekolah.

· Mendokumentasikan Setiap Kegiatan.

· Melaporkan hasil kegiatan tindakan aksi nyata kepada kepala sekolah dalam bentuk video.

F. HASIL AKSI NYATA

Pelaksanaan aksi nyata ini mendapatkan hasil yang sangat baik, dan sangat bermanfaat terutama bagi CGP sendiri dan rekan guru. Terlihat Rekan guru sangat antusias mengikuti sosialisasi yang menurut mereka sangat relevan dengan tugas sebagai seorang pendidik.

Begitu juga halnya Dengan terbentuknya keyakinan kelas, murid merasa bertanggung jawab untuk menjalankan keyakinan kelas tersebut, sehingga terciptanya budaya positif. Dengan menjalankan segitiga restitusi murid menjadi lebih bertanggung jawab terhadap kesalahannya dan dapat mencari solusi sendiri untuk mengatasi kesalahannya tersebut

G. Keberhasilan dan Kegagalan yang terjadi:


Keberhasilan yang terjadi:

keberhasilan yang diperoleh yaitu terbentuknya keyakinan kelas, Segi tiga restitusitelah dilakukan pada beberapa kasus dan sosialisasi pada rekan sejawat telah dilakukan

Kegagalan yang terjadi :Masih adanya siswa yang belum faham akan pelaksanaan keyakinan kelas sepenuhnya sehingga masih sulit untuk melakukan segitiga restitusi.
Kegiatan sosialisasi tidak bisa dilakukan kepada seluruh rekan guru dikarenakan banyaknya rekan guru yang memiliki kesibukan yang berbeda.

Untuk kegagalan yang masih ada saya akan terus bersemangat memperbaikinya dan mengimbaskan budaya positif ini serta akan selalu mencoba menerapkannya di sekolah.

Hasil Aksi Nyata tersebut saya Unggah dalam video ke YouTube Channel saya :







Senin, 12 Desember 2022

Demontrasi Kontekstual Menerapkan Segitiga Restitusi CGP 7

MENERAPKAN SEGITIGA RESTITUSI

Segitiga restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka dengan karakter yang lebih kuat. 

Terdapat tiga langkah dalam segitiga restitusi yaitu : 

1. Menstabilkan identitas 

Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses anak yang sedang mencari perhatian adalah anak yang sedang mengalami kegagalan

2. validasi tindakan yang salah 

 Setiap tindakan kita dilakukan dengan suatu tujuan yaitu memenuhi kebutuhan dasar, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan dasar Apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.  Menurut teori kontrol semua tindakan manusia baik atau buruk pasti memiliki maksud dan tujuan tertentu,  seorang guru yang memahami teori kontrol pasti akan mengubah pandangannya dari teori stimulus response ke cara berpikir proaktif yang mengenali tujuan dari setiap tindakan

3. menanyakan keyakinan

Teori kontrol menyatakan bahwa kita pada dasarnya termotivasi secara internal ketika identitas sukses telah tercapai (langkah 1) dan tingkah laku yang salah telah divalidasi (langkah 2)  maka anak akan siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya dan berpindah menjadi orang yang dia inginkan

Skenario Kasus 1 

Pada jam pelajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas 8. Ibu Sri Maryati berkeliling mengecek kesiapan siswa ketika setiap meja diperiksa, Ibu Sri Maryati melihat salah satu laci meja penuh dengan sampah, yaitu meja Nabil.  Kemudian sebagai guru yang sedang mengajar pada saat itu Ibu Sri Maryati menetapkan praktik segitiga restitusi untuk menyelesaikan kasus yang terjadi pada Nabil. Selanjutnya Ibu Sri Maryati memanggil untuk menanyakan beberapa hal dengan tujuan adanya perubahan positif pada Nabil sehingga nabil dapat selalu menjaga kebersihan  lingkungannya sesuai dengan kesepakan bersama.

 

Kasus 1

1. Menstabilkan identitas

 (Di dalam kelas)

Pada pembelajaran Bahasa Inggris kelas 8 di SMPN 14 Palembang. Guru menyapa siswa

Guru : Good morning everyone? How are you doing today? Sebelum memulai pelajaran ibu akan mengecek persiapan kalian untuk belajar.

Setelah itu guru memeriksa tiap laci meja murid begitu juga dengan keadaan dibawah kursi apakah sudah bersih dan siap untuk belajar. Setelah itu guru menemukan salah satu laci meja yang sangat kotor penuh dengan sampah bekas makanan yaitu meja Nabil

Guru : Nabil kenapa laci meja kamu penuh dengan sampah?

Nabil : Saya memang belum membuangnya bu. Tadinya saya mau membuangnya setelah banyak bu. Biar sekalian.

 

Guru   : Nabil, Ibu mengerti bahwa nabil ingin membuang sampah jika sampahnya sudah banyak biar sekalian. Tetapi dalam hal ini teman teman nabil merasa terganggu dengan bau sampah atau semut serta hewan lain yang datang apabila sampahnya terlalu lama disimpan

Nabil    : iya ibu, maafkan saya ya bu, Saya akan segera membuangnya bu. (mengumpulkan sampah lalu membuangnya keluar ketempat sampah)

 

(Di ruang guru)

2. validasi tindakan yang salah 

 

Guru    : Apakah Nabil tahu mengapa ibu memanggil Nabil ke sini?

Nabil    : Saya tahu bu, karena saya telah melakukan kesalahan dengan mengumpulkan sampah di laci meja dan tidak membuangnya ketempat sampah bu.

Guru   : Baik, Nabil pasti punya alasan mengapa jarang membuang sampah dan menunggu sampahnya sampai banyak dulu baru dibuang?

Nabil  :  Iya bu, alasan saya terkadang memang saya malas membuangnya dan merasa kalau sampahnya saya kumpulkan dulu jadi tidak usah sering-sering keluar untuk membuang sampah bu.(sambal menunduk merasa bersalah)

Guru   : Tetapi apakah Nabil tidak tahu bahwa sampah yang dikumpulkan akan mendatangkan hewan seperti semut, kecoa serta tikus serta dapat menimbulkan bau yang tidak sedap sehingga mengganggu teman disekitar Nabil.

Nabil    : Iya bu. Maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi dan berusaha untuk lebih rajin membuang sampah dan menjaga kebersihan lingkungan kelas bu.

 

 3. menanyakan keyakinan

 

Guru    : Nabil, masih ingat tidak waktu awal pembelajaran kita membuat keyakinan kelas bersama tentang cara menjaga kebersihan kelas. Keyakinan kelas apa yang sudah kita sepakati?

Nabil     : Ingat ibu... keyakinan kelas bahwa kita harus membuang sampah di tempat sampah yang sudah disediakan disetiap kelas bu.

Guru    : Ibu percaya Nabil dapat mempraktikkan keyakinan kelas kita dengan baik.

Nabil         : Siap ibu, Saya pasti bisa.

Guru    : Jadi menurut Nabil, solusi selanjutnya supaya kebersihan kelas kita selalu terjaga seperti apa?

 

Nabil     : Setiap sehabis jajan, bungkus makanan harus segera dibuang bu serta apabila melihat sampah harus langsung dibuang ketempat sampah.

Guru     : Baik Nabil karena kamu sudah menyadari kesalahanmu dan menyadari bahwa menjaga kebersihan lingkungan itu sangat penting, kamu boleh kembali ke kelas sekarang. (sambal tersenyum) 

Nabil     : baik bu. Terima kasih banyak mulai sekarang saya akan lebih menjaga kebersihan lingkungan kelas dan sekolah (dengan semangat) 

 

Tanggapan murid Kasus 1 

Assalamualaikum, saya Nabil dari kelas 8 SMPN 14 Palembang setelah melaksanakan segitiga restitusi bersama ibu Sri Maryati saya merasa lega dan senang karena saya akhirnya bisa terbiasa membuang sampah di tempat sampah dan menjaga kebersihan meja saya serta lingkungan di sekitar saya. Saya menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan menghargai lingkungan sekitar 

 

 Skenario kasus 2 

Pada jam pelajaran bahasa Inggris untuk siswa kelas 8 di saat guru memberikan kuis berupa pertanyaan-pertanyaan secara lisan yang dapat dijawab murid secara rebutan tetapi sesuai dengan kesepakatan kelas apabila ingin menjawab harus mengangkat tangan terlebih dahulu, setelah disebut namanya baru menjawab. Salah satu murid bernama Aletta selalu menjawab pertanyaan duluan tanpa menunjuk tangan sehingga siswa lain tidak mempunyai kesempatan untuk menjawab dan hal itu terjadi beberapa kali. Kemudian sebagai guru yang sedang mengajar Ibu Sri Maryati menetapkan praktik segitiga restitusi untuk menyelesaikan kasus yang sedang terjadi pada Aletta. Selanjutnya Ibu Sri Maryati memanggil untuk menanyakan beberapa hal dengan tujuan adanya perubahan positif pada Aletta sehingga Aletta dapat menghargai murid lain dengan memberikan kesempatan kepada murid lain untuk menjawab. Lalu akan mengangkat tangan apabila ingin menjawab sesuai dengan kesepakatan pembelajaran di dalam kelas.

  

Kasus 2

 

(Di dalam kelas)

Pada pembelajaran Bahasa Inggris kelas 8 di SMPN 14 Palembang

 

1. Menstabilkan identitas 

Guru menyapa siswa

Guru : Good morning everyone? How are youn doing today?

Setelah itu guru memberikan quiz berupa beberapa pertanyaan rebutan tentang mengidentifikasi benda. Sebelumnya guru mengingatkan mengenai kesepakatan kelas bahwa apabila ingin bertanya harus mengangkat tangan terlebih dahulu dan setelah disebut namanya baru menjawab.

Contoh pertanyaan yang diberikan guru:

Guru : What is the things? It it a fruit the colour sometimes yellow and sometimes green, the shape is like a star?

Aletta : Starfruit (belimbing)

Aletta beberapa kali menjawab tanpa menunjuk tangan, sehingga siswa lain tidak berkesempatan untuk menjawab.

 

Guru   : Aletta, Ibu mengerti bahwa Aletta memahami dan mengetahui tentang pertanyaan ibu serta jawabannya, tetapi murid yang lain juga ingin mempunyai kesempatan menjawab yang sama dengan Aletta. 

Aletta     : iya ibu, maafkan saya ya bu, saya akan menunjuk tangan sebelum menjawab dan menunggu nama saya dipanggil baru menjawab.

 

(Di ruang guru)

2. validasi tindakan yang salah 

 

Guru    : Apakah Aletta tahu mengapa ibu memanggil Aletta kesini?

Aletta   : Tahu bu, karena tadi saya melakukan kesalahan dikelas menjawab tanpa mengangkat tangan terlebih dahulu dan tanpa menunggu nama saya dipanggil untuk menjawab.

Guru   : Aletta pasti punya alasan mengapa ingin selalu duluan menjawab tanpa memberi kesempatan murid lain?

Aletta :  Iya bu, alasan saya adalah saya ingin mendapatkan nilai terbaik di kelas bu serta biar ibu tahu bahwa saya bisa menjawab semua pertanyaan ibu.

Guru   : Tetapi apakah Aletta tidak tahu bahwa teman teman yang lain juga mempunyai hak yang sama dengan Aletta, mereka juga ingin menjawab pertanyaan dari ibu dan mendapatkan nilai.

Aletta     : Ya bu. Maaf bu saya tidak akan mengulanginya lagi dan berusaha untuk bersikap lebih baik lagi dengan tidak merebut kesempatan teman lain untuk menjawab. (sambil menunduk mengakui kesalahannya)

 

 

3. menanyakan keyakinan

 

Guru    : Aletta, masih ingat tidak waktu awal pembelajaran kita membuat keyakinan kelas bersama tentang cara menjawab pertanyaan apalagi mengenai pertanyaan rebutan. Keyakinan kelas apa yang sudah kita sepakati?

Aletta     : Ingat ibu... keyakinan kelas bahwa setiap murid yang ingin menjawab pertanyaan harus mengangkat tangan terlebih dahulu bu setelah itu menjawab apabila nama kita yang dipanggil bu.

Guru    : Ibu percaya Aletta dapat mempraktikkan keyakinan kelas kita dengan baik.

Aletta         : Siap bu, insyaAlloh.

Guru    : Jadi menurut Aletta, solusi selanjutnya supaya teman lain mempunyai kesempatan menjawab yang sama seperti apa?

Aletta    : Kalau ingin menjawab harus mengangkat tangan, setelah ibu sebut namanya baru menjawab bu. 

Guru     : Baik Aletta karena kamu sudah menyadari kesalahanmu dan menyadari bahwa banyak cara lain untuk mendapatkan nilai tanpa harus merebut kesempatan teman. Kamu boleh kembali ke kelas. 

Aletta     : baik bu. Terima kasih banyak mulai sekarang saya akan lebih menghargai teman-teman di kelas bu (dengan semangat) 

 

Tanggapan murid kasus 2 

assalamualaikum Nama saya Aletta kelas 8 SMP Negeri 14 Palembang setelah mengadakan segitiga restitusi bersama Maam Sri Maryati Saya merasa senang karena saya akhirnya bisa menyadari bahwa apa yang saya yakini itu salah dan saya merasa lebih bisa menghargai orang lain demi kepentingan bersama.

Demontrasi Kontektual penerapan segitiga restitusi dapat dilihat melalui video berikut ini




Terima Kasih kepada semua pihak yang terlibat

Saya menunggu saran dan masukannya 

Thanks for Watching



Minggu, 04 Desember 2022

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3 GURU PENGGERAK ANGKATAN 7

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.3


KESIMPULAN KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.1, 1.2 DAN 1.3

"VISI YANG SESUAI DENGAN FILOSOFI KI HAJAR DEWANTARA TENTU DAPAT DIWUJUDKAN DENGAN NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK YANG DIMILIKI TENTULAH HARUS TERUKUR, KONKRET, SISTEMATIS DAN TERENCANA, OLEH KARENA ITU PERLU MELALUI RANCANGAN INQUIRY APRESIASIF DENGAN TAHAPAN BAGJA"

Setelah memahami bagaimana Filosofi pendidikan Ki Hadjar sebagai landasan pedagogis dalam melakukan perubahan menuntun anak didik sesuai kodrat nya, dengan melaksanakan nilai dan peran guru penggerak yang selalu berpihak pada anak didik. Maka untuk melaksanakan perubahan pola didik kita dari pola lama menuju pola didik yang sesuai Filosofi Ki Hajar Dewantara. Perlu sebuah strategi yang tepat untuk Mewujudkan perubahan. Pada modul 1.3 itu para CGP diperkenalkan dengan strategi untuk mengelola perubahan tersebut yang dikenal dengan Pendekatan Inkuiri Apresiatif.


Untuk lebih lengkapnya mengenai pembahasan Koneksi Antar Materi modul 1.3.a.8 adalah melalui video dibawah ini :






Atau dapat juga dilihat melalui link berikut ini :

Koneksi antar materi modul 1.3


Selasa, 28 September 2021

When English Rings a Bell Chapter 4 Grade 8

 

When English Rings a Bell Chapter 4 Grade 8

Come to My Birthday, Please!

 

Materi di bab keempat kelas 8 untuk Bahasa Inggris di kelas 8 kurikulum 2013 revisi terbaru ini ada beberapa hal, yaitu:

 

  • To invite someone to do something,
  • To give instructions, and 
  • To ask for permission,